Bahan dan Proses pembuatan Alat Musik Sapeh

Bahan dan Proses pembuatan Alat Musik Sapeh

29 Jan 2019   |   By Franco Londah   |   640 Views

CoklatKita.com - Agar menghasilkan sapeh yang sempurna, terutama dari segi kualitas suara yang dihasilkan, maka bahan-bahan untuk membuat alat music sapeh pun diambil dari kayu-kayu pilihan. Kayu yang dinilai memiliki kualitas baik dan keras sebagai bahan membuat sapeh biasanya berjenis kayu meranti; semisal, kayu pelantan, kayu adau, kayu marang kayu tabalok, dan kayu pelaik. Pilihan pada jenis kayu-kayu tersebut, dinilai karena kuat, tidak mudah pecah, tahan lama, dan tidak mudah dirusak rayap. Semakin kuat dan keras, begitu pula dengan urat daging kayunya maka suara yang dihasilkan akan semakin nyaring, baik dan lebih bagus.

Prosesnya cukup sederhana, bagian permukaan diratakan sedemikan rupa hingga halus, sementara bagian belakang dilubangi dengan bentuk memanjang namun tidak sampai tembus kebagian permukaan. Untuk mencari suara yang bagus maka tingkat tebal tipisnya tepi dan permukannya harus sama, agar suara bias bergetar merata, sehingga menghasilkan suara yang cukup lama dan nyaring ketika dipetik. Pada bagian dawai atau senar sapeh, nenek moyang suku Dayak menggunakan tali yang diambil dari serat pada bagian pohon enau atau aren namun untuk saat ini, senar sapeh diganti dengan bahan kawat tipis, dengan hasil suara yang lebih nyaring dari dawai atau senar versi tradisional.

Untuk tahapan pembuatan sapeh, dimulai pada bagian batang pohon yang sudah diratakan dengan menggunakan kapak lalu kayu dijemur hingga kering. Setelah kelembapan dalam kayu hilang, kondisi kering memudahkan untuk melubanginya secara memanjang tanpa menembus permukaan. Proses berikut adalah membuat ukiran sesuai dengan keinginan, lalu kemudian dibuat bahu atau gagang Sape sebesar kepalan tangan laki-laki dewasa, disesuaikan juga dengan pengguna atau pemain sapeh yang akan menggunakannya nanti, bentuk kepalan atau bahu berbeda dari satu dengan yang lain. Pada bagian bahu (ujungnya), dibuat lubang sebgai tempat pemutar sesuai jumlah senar atau dawai.

Setiap lubang putaran ditusuk dengan ujung pisau agar pemasangan senar jauh lebih mudah dan dililitkan pada setiap putarannya. Tahap selanjutnya adalah memasang senar di mana sebagai alat untuk menyeleraskan nada menggunakan belahan rotan yang dipotong-potong. Belahan rotan ini direkatkan dengan kelulut, sesuai dengan nada yang diinginkan.  Bentuk sapeh pada umumnya menyerupai perahu dan mempunyai bagian-bagian tertentu. Dalam bahasa suku Dayak Kenyah, penyebutan bagian-bagian sampe yakni: usa, mulam, batak, hudog sampe, uta, batuk, ndon, Iowong sampe, dan seterusnya.

Sampai dengan tahap ini, alat music sapeh sebenarnya sudah selesai namun hal lumrah yang biasanya dilakukan masyarakat Dayak, melanjutkan dasar ukiran yang sudah dibuat di awal menjadi ‘lebih nyata’ dan indah. Proses akhir mengukir ornament khas suku Dayak, dengan corak Enggang dan taring hewan buruan seperti babi hutan biasanya menjadi pilihan utama sebagai perlambang keagungan, kesuburan, dan kebesaran orang-orang suku Dayak.

Tamat

Sumber : #perjalananditanahdayak.com

Tags :