Tujuh Suku Nusantara Terancam Punah

Tujuh Suku Nusantara Terancam Punah

15 Nov 2018   |   By Franco Londah   |   572 Views

Nusantara terbentang dari ujung barat pulau Sumatera sampai ufuk timur pulau Irian. Kekayaan alam yang membentang, melimpahnya kebudayaan menjadi anugrah tersendiri bagi bumi pertiwi. Jelas berkaitan erat keragaman  tradisi dan budaya berhubungan langsung dengan suku-suku yang berada di Nusantara. Tersebar di setiap pelosok negeri, sedikitnya terhitung sekitar 1.500-san suku dan budaya serta bahasa yang berbeda. 

Sayang, suku-suku tersebut sebagian berada dalam status terancam punah atau hilang. Hal ini disebabkan pergeseran budaya dari tradisional ke modern, beberapa kebijakan pembangunan yang lalu menggeser keberadaaan suku-suku itu untuk menarik diri ke lebih jauh lagi ke dalam hutan dan populasi nya semakin mengecil. Beberapa lokasi yang biasa menjadi tempat didiami suku-suku asli Nusantara terpaksa ditinggalkan dan menjadi korban atas dasar modernisasi dan globalisasi. Tak dipungkiri memang, teknologi informasi banyak membawa imbas positif, tetapi di sisi lain hal negatif di kemudian hari bermunculan.  Miris? Ironis? tetapi begitu adanya yang terjadi saat ini. Terkikis nya sumber alam penghidupan bagi mereka, menjadi lahan pundi-pundi bagi kontraktor dan investor asing.  Sumber alam tempat tinggal mereka dilirik dan diakuisi menjadi sumber penghasilan bagi segelintir pihak dan perlu digarisbaawahi, suku-suku asli Nusantara lah yang menjadi korbannya.

Berikut ini, tujuh daftar suku-suku di Nusantara yang hampir dan (mungkin saja) sudah punah saat tulisan ini dimuat;

1. Suku Anak Dalam, Jambi

Dikenal dengan nama lain sebagai Orang Rimba, Suku Kubu, atau Suku Anak Dalam adalah suku minoritas yang hidup di pulau Sumatera. Lokasi nya berada tepat di Provinsi Jambi dan tersebar di Sumatera Selatan.  Populasi nya saat ini sekitar 200.000 orang saja untuk wilayah Jambi.

Suku Anak Dalam atau Orang Rimba biasanya mencukupi kehidupan sehari-hari mereka dengan berburu dan meramu hasil hutan menjadi makanan pokok nya . Selain untuk kebutuhan medis, upacara adat dan kebutuhan lainnya. Kemakmuran populasi mereka terancam punah karena lokasi tempat tinggalnya dialihgunakan menjadi kawasan perusahaan. Hingga pada akhirnya, tahun 2006, ratusan kepala keluarga Suka Anak Dalam atau Orang Rimba pergi meninggalkan kampung halaman mereka.

indonesia.go.id

2. Suku Sakai, Riau

Suku Sakai dikenal sebagai suku nomaden asli Indonesia karena cara hidup mereka yang berpindah-pindah di hutan.  Sebagai suku pedalaman asli yang menetap dan hidup di wilayah Riau secara berkelompok, Suka Sakai menjadi suku paling 'asing' dengan dunia luar.  Urutan pencampuan suku Sakai adalah orang Wedoid dan orang Melayu Tua.

Kebutuhan hidup mereka bergantung pada pemanfaatan kekayaan yang ada di sungai.

Kehidupan mereka akhirnya terancam dengan banyak pihak yang tidak beratnggung jawab mulai mengeksploitasi dan memanfaatkan sumber kekayaan di lokasi hutan sekitar tempat tinggal suku Sakai yang terkenal pohon-pohon tropis nya dan sumber minyak dunia yang tersimpan di tanahnya yang subur.

 

aktual.com

Sumber Foto : https://www.mediahindu.net/2010/03/18/umat-hindu-dayak-kaharingan-kutai-barat-dambakan-balai-basarah/

3. Suku Togutil, Halmahera

Hutan menjadi  lokasi utama kehidupan suku Togutil atau suku Tobelo dalam memilih tinggal sejak jaman nenek moyang. Seperti suku sebelumnya, Togutil tinggal nomaden berpindah tempat dari satu hutan ke hutan lain di sekitar wilayah Totodoku.

Sebenarnya, suku Togutil sudah dan sempat mengenal dunia (peradaban) luar selain mereka, akan tetapi karena satu dan lain hal tak jelas alasannya mereka lebih memilih kembali ke alam dan menjauhi segala hiruk pikuk modernitas. Suku Togutil mulai terancam kepunahannya tatkala para penambang  gencar melancarkan aksi masal mengeruk isi hutan yang mereka tinggali untuk diambil isi bumi nya.

thebiggestinindonesia.blogspot.com

Sumber foto : https://dokumen.tips/documents/makalah-suku-togutil.html

4. Suku Samin, Bojonegoro 

Berikutnya adalah suku Samin yang sepenuhnya bukan suku-suku asli pedalaman, melainkan para pengiikut ajaran Samin Surisentiko. Samin Suresntiko adalah sosok pendobrak dalam perlawanan melawan penjajah kolonial pada masanya dengan memberikan ajaaran berupa sedulursiker, yang artinya mengorbankan perlawan pada Belanda melalui sikap anti kekerasan. Melawan penjajah dengan wujud sikap tak membayar pajak dan menolak mentah-mentah kongsi dagang VOC dengan seluruh peraturan menyudutkan pihak lokal melalui sistem kolonial.

Proses mengisolasi  pengikutnya - suku Samin akhirnya terekspos media, baik luar maupun internasional, karna di tahun 1970-anlah pada akhirnya mereka mengetahui bahwa telah merdeka. Saat ini, suku tersebut masih berada di Bojonegoro Jawa timur namun sudah mengalami banyak sekali perubahan. Termasuk beberapa tradisi dan 'wujud perlawan' mereka dahulu kepada penjajah. Kini genersi mudanya sudah menggunakan kendaraan bermotor, traktor dan pupuk kimiawi untuk membantu proses bercocok tanam. Sedikit demi sedikit, menyatu dengan modernisasi wilayah di Nusantara, Jawa Timur khususnya.

Sumber: https://www.tanahnusantara.com/keunikan-suku-samin-dalam-menjaga-budaya-leluhur/

5. Suku Hutan, Batam

Suku Hutan, Batam - Kepulauan Riau masuk dalam jajaran kelompok etnis yang tinggal di Dusun Sungai Sadap, Kelurahan Rempang, Kecamatan Galang.

Suku ini populasinya menurun dari tahun ke tahun. Statistik mencatat, kemunduran per tahun 1970-an yang kala itu masih terdapat jumlah populasi 150 jiwa. Namun sayangnya saat ini, hanya tersisa  populaisi ; 13 jiwa dari 7 keluarga yang tinggal di Dusun Suku.

Penyebab ancaman kepunahan datang dari kebiasaan mereka sendiri. Beberapa keluarga suku Hutan pindah ke luar daerah lain dan sayangnya mereka yang keluar merantau tak kunjung kembali setelah menetap di tempat barunya.

sayanusantara.blogspot.com

Sumber: http://sayanusantara.blogspot.com/2016/04/suku-hutan-kepunahan-yang-sudah-diujung.html

6. Suku Mentawai, Sumatra Barat

Kepulauan Mentawai di Sumatera Barat memang  terkenal dengan keindahan pantai dan gugusan pulau-pulaunya sebagai tujuan destinasi wisatawan baik lokal maupun luar negeri.  Di kepulauan ini sendiri, terdapat Suku Mentawai sebagai penduduk asli kepulauan tersebut. Mereka pendukung budaya Proto-Melayu yang menetap di Nusantara bagian sebelah barat, dan termasuk suku kuno  otentik Indonesia.

Meramu bahan-bahan alam menjadi ciri khas mereka, selain seni merajah seluruh bagian tubuh nya. Kejelasan darimana asal muasal suku ini masih misterius dan tidak jelas. Banyak yang mengatakan bahwa suku Mentawai berada pada garis orang Polinesia, adapun sebagian ahli dan peneliti yang menyatakan jika mereka berasal dari daerah Simatalu yang masih termasuk ke dalam wilayah Pantai Barat Pulau Siberut.

Keunikan dari suku Mentawai menarik banyak minat wisatawan . Selain untuk menikmati panorama pantainya yang luar biasa indahnya. tetapi ada faktor lain mengapa, garis keturunan suku tersebut sedang mengalami stagnansi, bahkan kepunahan.

Hal ini dikarenakan, masuknya orang luar membuat perkembangan suku Mentawai  meregenerasi tradisi menemui titik akhir, dikarenakan kaum muda keturunan suku Mentawai mulai 'menikmati' tradisi yang dibawa orang luar, sehingga mereka tidak lagi menjalankan nilai-nilai leluhur mereka, menolak dan memilih arus modernisasi sebagai jalan hidup sebagian besar dari mereka. Tentu saja selain daripada faktor ekonomi yang meningkat di kawasan tersebut menjadi alasan paling jelas dari terancam punahnya suku Mentawai.


theriderpost.com

Sumber Foto : http://www.sukumentawai.org/id/sejarah/

7. Suku Asli Papua

Suku asli Papua memiliki garis rumpun yang sama dengan semua suku  atau penduduk asli Aborigin di benua Australia.  Suku yang berasal dari ujung paling timur Nusantara ini terancam kepunahannya dikarenakan kebiasaaan buruk yang berasal dari diri sebagian besar diri mereka sendiri.

Kebiasaan yang biasa mereka lakukan adalah tidak dapat mengkontrol hubungan intim . Mereka sering bergonta-ganti pasangan yang akhirnya mayoritas dari mereka terjangkit virus HIV/Aids. Dampak yang ditimbulkan terjadi pada semakin berkurangnya populasi mereka mulai mendekati status 'hilang' atau punah.

metromerauke.com

Sumber foto : Daerah - SINDOnews

 

dari berbagai sumber

 

 

 

 

 

 

 

Tags :