Coklat Kita Youth Blasting Gladiator Camp 2016

Coklat Kita Youth Blasting Gladiator Camp 2016

3 Jun 2016   |   By Diah Paramitha Tri Puspitasari   |   1522 Views

Salah satu penentu hidup-matinya sebuah komunitas terletak pada regenerasi anggotanya. Sepenuhnya menyadari hal tersebut, Coklat Kita menggelar serangkaian acara yang mengusung tema Youth Blasting dengan maksud menjaring para muda-mudi—khususnya dari kalangan komunitas dan karang taruna—untuk menjadi anggota baru mereka. Rangkaian kegiatan edukatif Youth Blasting ini dimulai sejak Februari sampai Mei 2016. Pertama-tama, Coklat Kita mengadakan workshop mengenai digital media, kemudian dilanjut dengan workshop entrepreneurship, dan terakhir, puncak dari rangkaian kegiatan ini ditutup dengan Coklat Kita Youth Blasting Gladiator Camp.

   

Dari 27 karang taruna yang mendaftar, hanya 13 di antaranya yang kemudian lolos seleksi dan berhak mengikuti event Gladiator Camp di kawasan Punceling, Ciwidey. Berlangsung pada 28-29 Mei 2016, total peserta Gladiator Camp ini mencapai 160 orang yang masing-masingnya berasal dari Garut, Banjar, Tasik, Cianjur, Sumedang, dan Bandung Kabupaten. Tema Gladiator Camp dipilih agar para peserta mendapat pengalaman berkemah yang berbeda dari biasanya. Di samping itu, pendaulatan para peserta sebagai ‘calon gladiator’ juga dirasa sesuai dengan misi Coklat Kita yang ingin menghasilkan generasi muda nan tangguh, berjiwa kepemimpinan, dan memiliki semangat untuk bersatu.

Kegiatan Youth Blasting Gladiator Camp ini diawali dengan registrasi peserta pada hari Sabtu (28/5) di DSO Bandung Kota. Pukul 10 pagi, para peserta yang sudah ‘siap tempur’ ini berangkat ke Punceling menggunakan truk tentara dengan disertai tim pendamping dari Coklat Kita. Sekitar pukul 1 siang, peserta tiba di lokasi perkemahan dan langsung mendapat sambutan dari Jenderal Oleng yang dengan gagahnya menghampiri mereka sembari menunggangi kuda lengkap dengan kostum kebesarannya. Dalam Gladiator Camp ini, Jenderal Oleng berperan sebagai utusan raja yang diamanati untuk memimpin para calon gladiator dalam ‘pendidikan mental’ mereka selama dua hari satu malam. Sebelum acara dimulai, para calon gladiator diminta berjanji untuk menuruti semua titah raja dan menjaga kebersihan arena perkemahan.

    

Setelah penyambutan, para peserta melakukan ice breaking di lapangan. Kali ini, mereka dipandu Jenderal Oleng yang sudah berganti pakaian. Tampak semangat dan ceria, muda-mudi ini antusias mengikuti permainan-permainan yang diciptakan Oleng dan timnya selama dua jam. Setelah menguras energi pada sesi ice breaking, para peserta dipersilakan beristirahat, salat, dan mengambil makan siang yang tersedia di tenda dapur umum. Saat itu, suasana akrab sudah terbangun di tengah calon-calon gladiator. Mereka telah terbagi ke dalam 17 kelompok yang masing-masingnya beranggota 9-10 orang.

Saat sore tiba, kabut mulai menyelimuti seluruh arena perkemahan.  Jenderal Oleng memanggil kembali para peserta untuk berkumpul di lapangan. Di sana, hadir sesosok Imam Besar Thepanasdalam, Pidi Baiq, yang sudah siap duduk di atas panggung dengan gitar andalannya. Narasumber yang lebih akrab disapa “Ayah” ini berbagai kisah mengenai kenakalan dirinya sedari kecil, remaja, hingga dewasa. Di sela-sela ceritanya yang mengundang gelak tawa peserta, Ayah melantunkan pula lagu-lagu yang ia ciptakan berdasarkan pengalaman-pengalaman ajaibnya tersebut. Pada momen ini, Ayah Pidi berhasil menghangatkan suasana dengan candaan khas serta petuah-petuahnya mengenai pentingnya menjadi pribadi yang unik, mengenai indahnya persahabatan, mengenai kebahagiaan yang sesungguhnya bisa kita ciptakan sendiri, juga  mengenai manusia yang menurutnya tidak boleh berhenti berkarya, “Kau harus berkarya. Kalau tidak, berarti kau sedang melecehkan ibumu bahwa beliau adalah orang yang melahirkan anak tak berguna,” ujarnya.

 

Selepas break maghrib dan isya, para peserta berkumpul kembali di lapangan untuk bersiap melakukan jurit malam. Pada jurit malam ini, satu per satu kelompok akan dilepas untuk menyusuri hutan, melewati lima pos utama dan dua pos bayangan. Sebelum mereka dipersilakan memulai perjalanan, setiap kelompok dibekali senter dan dua butir telur yang mesti dijaga keutuhannya. Telur tersebut dinamai ‘telur harga diri’. Para ketua kelompok harus menjaga telur tersebut sebagaimana mereka menjaga harga diri kelompoknya masing-masing. Pada kelima pos utama, setiap kelompok diberi misi untuk menyelesaikan lima tantangan berbeda. Lima pos utama tersebut terbagi menjadi Zona Saling Mengenal, Zona Bekerja Sama, Zona Berpikir Bersama, Zona Kibarkan Jati Diri, dan Zona Berkorban Bersama. Selain menjadi bahan penilaian bagi panitia, tujuan dilakukannya misi ini adalah untuk mengumpulkan paket makanan yang nantinya akan menjadi santapan para peserta sendiri selepas mereka jurit malam.

Kurang lebih tiga jam lamanya, seluruh kelompok berhasil menyelesaikan misi dan tiba kembali di lapangan. Mereka kemudian dipersilakan beristirahat juga makan malam. Kira-kira pukul 12 dini hari, Iksan Skuter dan Jaka hadir di panggung untuk menghibur para calon gladiator yang sudah beraktivitas seharian penuh. Membawakan lagu-lagunya sendiri, juga beberapa nomor dari Iwan Fals, kedua musisi ini berhasil melonggarkan urat-urat peserta yang malam barusan cukup diliputi ketegangan. Kumpulan muda-mudi ini tampak menikmati suasana sembari sekali-sekali ikut menyanyikan lagu yang Iksan dan Jaka bawakan.

     

Di tengah pertunjukan, Gus Candra Malik turut naik ke atas panggung untuk memulai sesi renungan malam.  Suasana di lapangan menjadi semakin tenang seiring dengan terciptanya dialog santai antara Candra Malik dengan peserta yang sesekali melontarkan pertanyaan. Pada sesi ini, Candra Malik mengingatkan peserta tentang banyak hal seperti pentingnya keluarga, teman, sahabat; peran setiap manusia yang tidak mungkin tergantikan; manajemen konflik yang dapat dijadikan pelajaran bersama; cara yang baik dalam menciptakan regenerasi; makna kebersamaan; dan lain sebagainya. Renungan malam ini lalu ditutup dengan nyanyian “Shankara” dari Iksan Skuter. “Beruntunglah kita yang malam ini hadir di sini. Beruntunglah kita yang terlahir di negeri ini, bukan di Palestina, Suriah, atau negara-negara konflik lainnya. Doa bagi saudara-saudara kita di sana, semoga kedamaian dunia segera tercipta,” ujar Iksan di tengah-tengah nyanyian lantangnya.

Keesokan harinya, pada Minggu pagi yang cerah, para calon gladiator yang sudah cukup beristirahat diajak untuk olahraga bersama di lapangan. Musik-musik enerjik melatari sesi senam ceria mereka pagi itu. Udara Punceling yang sejuk tergantikan dengan hawa panas dan keringat selepas mereka berolahraga. Para peserta kemudian melakukan istirahat sejenak sebelum mulai mengambil sarapannya masing-masing. Akhir dari Gladiator Camp ini akan segera tiba. Setelah para peserta bersih-bersih diri dan merapikan isi tenda, Jenderal Oleng kembali menyerukan panggilan agar mereka berkumpul di lapangan.

    

Pada momen ini, MC mengumumkan kelompok yang menjadi pemenang dalam Gladiator Camp 2016. Kemudian, dua butir ‘telur harga diri’ yang diberikan pada setiap ketua kelompok tadi malam dipecahkan bersama sesuai instruksi MC—yang satu diinjak, yang satu lagi dilemparkan ke arah tameng sang Jenderal. Suasana ceria menjadi akhir dari Gladiator Camp 2016 ini. Sebagai simbol resminya para peserta diangkat menjadi gladiator Coklat Kita yang baru, Geger Susanto selaku ketua Coklat Kita Bandung Kota memberikan lencana penghormatan pada para peserta. “Harapan kami, semoga kegiatan ini bisa memotivasi anak muda, khususnya karang taruna, untuk peduli pada lingkungan sekitar, semakin terstruktur dalam menciptakan event kreatif dan edukatif, menjaga semangat kebersamaan, dan terus membesarkan komunitas sebagaimana motto dari Coklat Kita—kita besar karena pertemanan, persahabatan, dan kebersamaan,” ujar Geger Susanto, menutup Coklat Kita Youth Blasting Gladiator Camp yang berlangsung sukses tahun ini. ***

 

Foto: Mitha / Baskoro / Jody

Tags : Youth Blasting , Gladiator Camp , Coklat Kita